Rabu, 25 Februari 2015

SEMEN PADANG FC

Profil Semen Padang

Salah satu klub sepakbola kebanggaan masyarakat Minang ini berdiri pada bulan November tahun 1980 di markasnya Indarung, Padang, Sumatera Barat. Didukung oleh perusahaan yang sudah mapan PT. Semen Padang semakin membuat Semen Padang FC tetap eksis dan bahkan tidak pernah terdengar mengalami krisis finansial.

Hingga saat ini prestasi tertinggi yang diraih oleh Semen Padang adalah ketika berhasil meraih juara Piala Galatama tahun 1992. Kemudian tahun 1994 saat kompetisi Liga Indonesia bergulir prestasi Semen Padang lebih sering dianggap sebagai tim kuda hitam. Liga Indonesia tahun 2002 tim berjuluk 'Kabau Sirah' ini sempat tampil menjadi juara dari wilayah barat serta berhak tampil ke babak penyisihan namun akhirnya Petrokimia Putra keluar sebagai juara Liga Indonesia.

Sementara prestasi yang paling membanggakan dari Kabau Sirah adalah ketika mereka berhasil mencapai babak perempat final piala Winners AFC Cup musim 1993/1994. Kala itu Semen Padang berhasil menyingkirkan juara Liga Vietnam Cang Sai Gon (Ho Chi Minh City FC) dengan agregat 2-1 di putaran kedua. Di babak perempat final melawan Nissan Motors FC (Yokohama Marinos), Semen padang sempat memenangkan pertandingan leg pertama di kandang dengan skor 2-1 namun ketika bertandang ke Jepang digilas dengan skor telak 11-0.

Era Liga Indonesia yang berlangsung hingga tahun 2010 praktis tidak menghasilkan satupun gelar bagi 'Kabau Sirah'. Namun predikat sebagai tim kuda hitam dan bahkan sempat beberapa kali diperhitungkan sebagai calon juara memberikan karakter bagi tim yang bermarkas di Stadion Haji Agus Salim ini.

Sederet pemain ternama pernah mengisi skuad 'kabau sirah' dan beberapa diantaranya pernah menjadi langganan Tim Nasional Indonesia, sebut saja Ellie Aiboy mantan sayap tim Garuda yang masih bermain hingga saat ini. Tahun 2009 ketika ditangani pelatih Arcan Iurie Semen Padang berhasil promosi ke Liga Super Indonesia dengan predikat runner-up grup A (babak 8 besar) setelah sebelumnya menempati peringkat pertama di Grup Satu.

Tim ini memberikan warisan kepada generasi berikutnya yang bermain di Liga Super musim 2010/2011. Masuknya pelatih Nil Maizar membuat tim Kabau Sirah meraih pencapaian tak kalah hebat di musim perdana Liga Super Indonesia. Semen Padang nyaris saja menjadi juara karena sempat bergantian menjadi pemimpin klasemen dengan sang juara Persipura. Namun penampilan yang tidak konsisten akhirnya membuat posisi mereka melorot hingga posisi ke-4 klasemen akhir akan tetapi itu tidak menghilangkan kesan bahwa Semen Padang tetap menjadi tim unggulan.

Menurut hasil evaluasi tim Exco PSSI pada Mei 2011 bahwa manajemen tim Semen Padang mendapat prediket terbaik dalam pengelolaan manajemen kompetisi ISL. Penilaiannya juga termasuk badan hukum, keuangan, sistem kontrak kerja antar pemain dan pelatih dilakukan dengan cukup rapi. Hal ini memberikan kebebasan bagi Semen Padang untuk mengikuti kompetisi sepakbola nasional hingga bahkan ada yang menganggap kehadiran Tim Kabau Sirah merupakan keharusan bagi kompetisi berskala nasional.
Susunan Pemain

NamaPosisi
99Airlangga SuciptoAttacker
17Muhammad Nur IskandarAttacker
21Gugum GumilarAttacker
11Hengki ArdilesDefender
44Abdul GamalDefender
26Seftia HadiDefender
16Saepuloh MaulanaDefender
0Goran GancevDefender
2Novan Setyo SasongkoDefender
14Putra Shabilul RashadGoalkeeper
88Irsyad MaulanaGoalkeeper
31FakrurraziGoalkeeper
21Jandia Eka PutraGoalkeeper
6Yu Hyun KoMidfielder
23Esteban VizcarraMidfielder
8Eka RamdaniMidfielder
17Ricky OhorellaMidfielder
10Vendri MofuMidfielder
12Jajang PaliamaMidfielder
15Hendra Adi BayauMidfielder
31RudiMidfielder

Daftar Nama Kecamatan Kelurahan/Desa & Kodepos Di Kota Padang Sumatera Barat (Sumbar)

Daftar Nama Kecamatan Kelurahan/Desa & Kodepos Di Kota Padang Sumatera Barat (Sumbar)

Berikut ini adalah daftar nama-nama Kelurahan / Desa dan Kecamatan beserta nomor kode pos (postcode / zip code) pada Kota Padang, Provinsi Sumatera Barat (Sumbar), Republik Indonesia.

Negara : Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)
Provinsi : Sumatera Barat (Sumbar)
Kota Administrasi/Kotamadya : Padang


1. Kecamatan Bungus Teluk Kabung
Daftar nama Desa/Kelurahan di Kecamatan Bungus Teluk Kabung di Kota Padang, Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) :
- Kelurahan/Desa Bungus Barat (Kodepos : 25237)
- Kelurahan/Desa Bungus Selatan (Kodepos : 25237)
- Kelurahan/Desa Bungus Timur (Kodepos : 25237)
- Kelurahan/Desa Teluk Kabung Selatan (Kodepos : 25237)
- Kelurahan/Desa Teluk Kabung Tengah (Kodepos : 25237)
- Kelurahan/Desa Teluk Kabung Utara (Kodepos : 25237)

2. Kecamatan Koto Tangah
Daftar nama Desa/Kelurahan di Kecamatan Koto Tangah di Kota Padang, Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) :
- Kelurahan/Desa Balai Gadang (Kodepos : 25171)
- Kelurahan/Desa Batipuh Panjang (Kodepos : 25171)
- Kelurahan/Desa Bungo Pasang (Kodepos : 25171)
- Kelurahan/Desa Koto Pulai (Kodepos : 25171)
- Kelurahan/Desa Parupuk Tabing (Kodepos : 25171)
- Kelurahan/Desa Pasir/Pasie Nan Tigo (Kodepos : 25171)
- Kelurahan/Desa Batang Kabung (K Ganting) (Kodepos : 25172)
- Kelurahan/Desa Lubuk Buaya (Kodepos : 25173)
- Kelurahan/Desa Padang Sarai (Kodepos : 25173)
- Kelurahan/Desa Koto Panjang Ikua Koto (Kodepos : 25175)
- Kelurahan/Desa Lubuk Minturun (Kodepos : 25175)
- Kelurahan/Desa Air Pacah (Kodepos : 25176)
- Kelurahan/Desa Dadok Tunggul Hitam (Kodepos : 25176)

3. Kecamatan Kuranji
Daftar nama Desa/Kelurahan di Kecamatan Kuranji di Kota Padang, Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) :
- Kelurahan/Desa Anduring (Kodepos : 25151)
- Kelurahan/Desa Pasar Ambacang (Kodepos : 25152)
- Kelurahan/Desa Lubuk Lintah (Kodepos : 25153)
- Kelurahan/Desa Ampang (Kodepos : 25154)
- Kelurahan/Desa Kalumbuk (Kodepos : 25155)
- Kelurahan/Desa Korong Gadang (Kodepos : 25156)
- Kelurahan/Desa Kuranji (Kodepos : 25157)
- Kelurahan/Desa Gunung Sarik (Kodepos : 25158)
- Kelurahan/Desa Sei/Sungai Sapih (Kodepos : 25159)

4. Kecamatan Lubuk Begalung
Daftar nama Desa/Kelurahan di Kecamatan Lubuk Begalung di Kota Padang, Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) :
- Kelurahan/Desa Gurun Laweh/Lawas (Kodepos : 25221)
- Kelurahan/Desa Lubuk Begalung (Kodepos : 25221)
- Kelurahan/Desa Banuaran (Kodepos : 25222)
- Kelurahan/Desa Tanjung Aur/Tanjuang Aua (Kodepos : 25222)
- Kelurahan/Desa Batang Taba Nan XX (Kodepos : 25223)
- Kelurahan/Desa Parak Laweh Pulau Air Nan XX (Kodepos : 25223)
- Kelurahan/Desa Pitameh Tanjung Saba Nan XX (Kodepos : 25224)
- Kelurahan/Desa Tanah Sirah Piai Nan XX (Kodepos : 25224)
- Kelurahan/Desa Cengkeh/Cangkeh Nan XX (Kodepos : 25225)
- Kelurahan/Desa Kampung Baru Nan XX (Kodepos : 25225)
- Kelurahan/Desa Kampung Jua Nan XX (Kodepos : 25225)
- Kelurahan/Desa Pagambiran Ampulu (Pangambiran Ampalu) Nan XX (Kodepos : 25226)
- Kelurahan/Desa Gates Nan XX (Kodepos : 25227)
- Kelurahan/Desa Koto Baru (Kodepos : 25227)
- Kelurahan/Desa Pampangan Nan XX (Kodepos : 25227)

5. Kecamatan Lubuk Kilangan
Daftar nama Desa/Kelurahan di Kecamatan Lubuk Kilangan di Kota Padang, Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) :
- Kelurahan/Desa Bandar Buat (Banda Buek) (Kodepos : 25231)
- Kelurahan/Desa Koto Lalang (Kodepos : 25232)
- Kelurahan/Desa Padang Besi (Kodepos : 25233)
- Kelurahan/Desa Tarantang (Kodepos : 25234)
- Kelurahan/Desa Beringin/Baringin (Kodepos : 25235)
- Kelurahan/Desa Batu Gadang (Kodepos : 25236)
- Kelurahan/Desa Indarung (Kodepos : 25237)

6. Kecamatan Nanggalo
Daftar nama Desa/Kelurahan di Kecamatan Nanggalo di Kota Padang, Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) :
- Kelurahan/Desa Kampung Lapai (Kodepos : 25142)
- Kelurahan/Desa Kampung Olo (Kodepos : 25143)
- Kelurahan/Desa Tabing Banda Gadang (Kodepos : 25144)
- Kelurahan/Desa Gurun Lawas/Laweh (Kodepos : 25145)
- Kelurahan/Desa Surau Gadang (Kodepos : 25146)
- Kelurahan/Desa Kurao Pagang (Kodepos : 25147)

7. Kecamatan Padang Barat
Daftar nama Desa/Kelurahan di Kecamatan Padang Barat di Kota Padang, Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) :
- Kelurahan/Desa Rimbo Kaluang (Kodepos : 25111)
- Kelurahan/Desa Kampung Jao (Kodepos : 25112)
- Kelurahan/Desa Padang Pasir (Kodepos : 25112)
- Kelurahan/Desa Flamboyan (Plamboyan Baru) (Kodepos : 25114)
- Kelurahan/Desa Ujung Gurun (Kodepos : 25114)
- Kelurahan/Desa Purus (Kodepos : 25115)
- Kelurahan/Desa Olo (Kodepos : 25117)
- Kelurahan/Desa Belakang Tangsi (Kodepos : 25118)
- Kelurahan/Desa Berok Nipah (Kodepos : 25118)
- Kelurahan/Desa Kampung Pondok (Kodepos : 25119)

8. Kecamatan Padang Selatan
Daftar nama Desa/Kelurahan di Kecamatan Padang Selatan di Kota Padang, Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) :
- Kelurahan/Desa Alang Laweh (Kodepos : 25211)
- Kelurahan/Desa Belakang Pondok (Kodepos : 25211)
- Kelurahan/Desa Ranah Parak Rumbio (Kodepos : 25212)
- Kelurahan/Desa Pasar Gadang (Kodepos : 25213)
- Kelurahan/Desa Seberang Padang (Kodepos : 25214)
- Kelurahan/Desa Batang Arau (Kodepos : 25215)
- Kelurahan/Desa Bukik/Bukit Gado-gado (Kodepos : 25215)
- Kelurahan/Desa Seberang Palinggam (Kodepos : 25215)
- Kelurahan/Desa Mato/Mata Air (Kodepos : 25216)
- Kelurahan/Desa Rawang (Kodepos : 25216)
- Kelurahan/Desa Air Manis (Aia Manih) (Kodepos : 25217)
- Kelurahan/Desa Teluk Bayur/Taluak Bayua (Kodepos : 25217)

9. Kecamatan Padang Timur
Daftar nama Desa/Kelurahan di Kecamatan Padang Timur di Kota Padang, Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) :
- Kelurahan/Desa Sawahan (Kodepos : 25121)
- Kelurahan/Desa Sawahan Timur (Kodepos : 25121)
- Kelurahan/Desa Ganting Parak Gadang (Kodepos : 25122)
- Kelurahan/Desa Parak Gadang Timur (Kodepos : 25123)
- Kelurahan/Desa Simpang Haru (Kodepos : 25123)
- Kelurahan/Desa Kubu Marapalam (Kodepos : 25125)
- Kelurahan/Desa Andalas (Kodepos : 25126)
- Kelurahan/Desa Kubu Parak Karakah (Dalam) (Kodepos : 25126)
- Kelurahan/Desa Jati (Kodepos : 25129)
- Kelurahan/Desa Jati Baru (Kodepos : 25129)

10. Kecamatan Padang Utara
Daftar nama Desa/Kelurahan di Kecamatan Padang Utara di Kota Padang, Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) :
- Kelurahan/Desa Air Tawar Barat (Kodepos : 25132)
- Kelurahan/Desa Air Tawar Timur (Kodepos : 25132)
- Kelurahan/Desa Ulak Karang Utara (Kodepos : 25133)
- Kelurahan/Desa Ulak Karang Selatan (Kodepos : 25134)
- Kelurahan/Desa Lolong Belanti (Kodepos : 25136)
- Kelurahan/Desa Gunung Pangilun (Kodepos : 25137)
- Kelurahan/Desa Alai Parak Kopi (Kodepos : 25139)

11. Kecamatan Pauh
Daftar nama Desa/Kelurahan di Kecamatan Pauh di Kota Padang, Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) :
- Kelurahan/Desa Binuang Kampung Dalam (Kodepos : 25161)
- Kelurahan/Desa Pisang (Kodepos : 25161)
- Kelurahan/Desa Cupak Tangah (Kodepos : 25162)
- Kelurahan/Desa Piai Tangah (Kodepos : 25162)
- Kelurahan/Desa Kepala/Kapalo Koto (Kodepos : 25163)
- Kelurahan/Desa Limau Manis Selatan (Kodepos : 25163)
- Kelurahan/Desa Koto Luar (Kodepos : 25164)
- Kelurahan/Desa Limau Manis (Kodepos : 25166)
- Kelurahan/Desa Lambung Bukit/Bukik (Kodepos : 25168)

Kota Tua Padang, Sumatera Barat yang terlupakan – Pasar Tua

Kota Tua Padang, Sumatera Barat yang terlupakan] – Pasar Tua

Kota tua merupakan saksi sejarah kota Padang, dibalik arsitektur bangunannya yang mengagumkan menyimpan Misteri akan peristiwa sejarah di masa lampau. Inilah selintas mengenai kota tua di Padang.  Saya akan menuliskannya dalam beberapa postingan berseri.
Kota Padang adalah salah satu Kota tertua di pantai barat Sumatera di Lautan Hindia. Menurut sumber sejarah pada awalnya (sebelum abad ke-17) Kota Padang dihuni oleh para nelayan, petani garam dan pedagang. Ketika itu Padang belum begitu penting karena arus perdagangan orang Minang mengarah ke pantai timur melalui sungai-sungai besar. Namun sejak Selat Malaka tidak lagi aman dari persaingan dagang yang keras oleh bangsa asing serta banyaknya peperangan dan pembajakan, maka arus perdagangan berpindah ke pantai barat Pulau Sumatera.
Suku Aceh adalah kelompok pertama yang datang setelah Malaka ditaklukkan oleh Portugis pada akhir abad ke XVI. Sejak saat itu Pantai Tiku, Pariaman dan Inderapura yang dikuasai oleh raja-raja muda wakil Pagaruyung berubah menjadi pelabuhan-pelabuhan penting karena posisinya dekat dengan sumber-sumber komoditi seperti lada, cengkeh, pala dan emas.
Kemudian Belanda datang mengincar Padang karena muaranya yang bagus dan cukup besar serta udaranya yang nyaman dan berhasil menguasainya pada Tahun 1660 melalui perjanjian dengan raja-raja muda wakil dari Pagaruyung. Tahun 1667 Belanda membangun gudang-gudang untuk menumpuk barang sebelum dikapalkan melalui pelabuhan Muara Padang yang berada di muara Batang (sungai) Arau. Kawasan inilah yang merupakan kawasan awal Kota Tua Padang. Batang Arau yang berhulu sekitar 25 kilometer ke pegunungan Bukit Barisan merupakan salah satu dari lima sungai di Padang. Sungai ini sangat penting karena posisinya sangat strategis dibanding Batang Kuranji, Batang Tarung, Batang Tandis dan Batang Lagan. Status sebagai pusat perniagaan kemudian memacu pertumbuhan fisik kota dan semakin berkembang pasca terbangunnya pelabuhan Emma Haven yang sekarang disebut sebagai Teluk Bayur pada abad ke 19.
Menurut masyarakat setempat, kawasan kota ini dahulunya merupakan bagian dari kawasan rantau yang didirikan oleh para perantau Minangkabau dari dataran tinggi (darek). Tempat pemukiman pertama adalah perkampungan di pinggiran selatan Batang Arau di tempat yang sekarang bernama Seberang Padang.Seperti kawasan rantau Minangkabau lainnya, pada awalnya kawasan daerah pesisir pantai barat Sumatera berada di bawah pengaruh kerajaan Pagaruyung. Namun pada awal abad ke-17 kawasan ini telah menjadi bagian dari kedaulatan kesultanan Aceh.
Sungai Batang Arau di Padang, Sumatera Barat, mengalir di kawasan Kota Lama Padang. Kawasan inilah yang menjadi pusat niaga Kota Padang ketika Belanda masih bercokol di Sumatra Barat. Maka kawasan ini menjadi salah satu tujuan yang menarik bagi pendatang, selain melihat berbagai bangunan tua bergaya kolonial, campuran Tionghoa, bahkan perpaduan India Keling, juga menikmati pemandangan sekitar kota Padang.
Pertama kali menyusuri kota tua di Padang, saya memulai dari jl. Pasar Gadang, Kawasan inilah yang merupakan kawasan awal Kota Tua Padang. Konon katanya  Belanda membangun gudang-gudang untuk menumpuk barang sebelum dikapalkan melalui pelabuhan Muara Padang yang berada di muara Batang Arau. Batang Arau yang berhulu sekitar 25 kilometer ke pegunungan Bukit Barisan merupakan salah satu dari lima sungai di Padang. Sungai ini sangat penting karena posisinya sangat strategis dibanding Batang Kuranji, Batang Tarung, Batang Tandis dan Batang Lagan. Status sebagai pusat perniagaan kemudian memacu pertumbuhan fisik kota dan semakin berkembang pasca terbangunnya pelabuhan Emma Haven yang sekarang disebut sebagai Teluk Bayur pada abad ke 19. Kota ini lebih melesat lagi setelah ditemukannya tambang batubara di Umbilin, Sawah Lunto/Sijunjung, oleh peneliti Belanda, De Greve. Namun sentra perdagangan tetap di Muaro.
ImageBangunan tua di jl. Pasar Mudik
Image
 Bangunan tua di kawasan jl.Pasar Gadang
ImageBangunan tua di kawasan jl.Pasar Gadang
ImageBangunan tua di kawasan jl.Pasar Gadang
Saat menyusuri pasar lama di jl. Pasar Gadang saya tertarik dengan salah satu bangunan yang bertuliskan 5 – 2 – 1918 kemungkinan besar gedung ini dibuat pada tanggal 2 Mei tahun 1918, kalau di lihat dari bentuk bangunannya dan tahun pembuatannya gedung tersebut dibuat pada zaman pemerintahan Belanda.
Sangat disayangkan, kawasan yang dahulunya pernah ramai dan menjadi cikal-bakal kota Padang ini, kurang terawat. Sepanjang Muaro, Pasar Gadang, Pasar Mudik dan Pasar Batipuh saat ini hanya difungsikan sebagai gudang saja. Nilai estetikanya kurang diperhatikan sebagian gedung-gedung tersebut dibiarkan begitu saja menghitam karena timbunan lumut. Muaro masa kini memang masih menjadi daerah perniagaan tetapi tidak seramai jaman dahulu.
Image
Bangunan tua yang dibangun tanggal 5 – 2 – 1918 tampak tak terawat
Diujung jl. Pasar Padang saya menemukan bangunan yang tampak masih baru, tetapi sudah berubah bentuk dari bentuk aslinya, menurut saya ini sangat disayangkan sekali karena nilai history dari bangunan tersebut sudah hilang.
ImageBangunan tua yang sudah direnovasi
Selain bangunan di daerah Pondok, ada bangunan lama lainnya, antara lain Pasar Batipuh yang dahulunya merupakan tempat transaksi dagang pada zaman penjajahan Belanda, ada juga Museum Bank Indonesia yang dahulunya merupakan bekas De Javasche Bank.
ImageImage
Bangunan tua yang tidak terawatt di jl. Pasar Batipuh
Melihat begitu banyak gedung tua dan pasar tua di kawasan kota tua Padang ini, saya membayangkan betapa kota Padang pada masa jayanya sudah ramai orang berniaga di sini, pantaslah kalau banyak orang minang yang pandai berdagang.

KERAGAMAN MASYRAKAT KOTA PADANG

Ragam Suku di Kota Padang dan Agama yang dianut

Penduduk Kota Padang sebagian besar berasal dari etnis Minangkabau.Etnis lain yang juga bermukim di sini adalah Jawa, Tionghoa, Nias, Mentawai, Batak, Aceh, dan Tamil. Orang Minang di Kota Padang merupakan perantau dari daerah lainnya dalam Provinsi Sumatera Barat. Pada tahun 1970, jumlah pendatang sebesar 43% dari seluruh penduduk, dengan 64% dari mereka berasal dari daerah-daerah lainnya dalam provinsi Sumatera Barat. Pada tahun 1990, dari jumlah penduduk Kota Padang, 91% berasal dari etnis Minangkabau.
Orang Nias sempat menjadi kelompok minoritas terbesar pada abad ke-19. VOC membawa mereka sebagai budak sejak awal abad ke-17. Sistem perbudakan diakhiri pada tahun 1854 oleh Pengadilan Negeri Padang. Pada awalnya mereka menetap di Kampung Nias, namun kemudian kebanyakan tinggal di Gunung Padang. Cukup banyak juga orang Nias yang menikah dengan penduduk Minangkabau. Selain itu, ada pula yang menikah dengan orang Eropa dan Tionghoa. Banyaknya pernikahan campuran ini menurunkan persentase suku Nias di Padang.
Belanda kemudian juga membawa suku Jawa sebagai pegawai dan tentara, serta ada juga yang menjadi pekerja di perkebunan. Selanjutnya, pada abad ke-20 orang Jawa kebanyakan datang sebagai transmigran. Selain itu, suku Madura, Ambon dan Bugis juga pernah menjadi penduduk Padang, sebagai tentara Belanda pada masa perang Padri. Penduduk Tionghoa datang tidak lama setelah pendirian pos VOC. Orang Tionghoa di Padang yang biasa disebut dengan Cina Padang, sebagian besar sudah membaur dan biasanya berbahasa Minang. Pada tahun 1930 paling tidak 51% merupakan perantau keturunan ketiga, dengan 80% adalah Hokkian, 2% Hakka, dan 15% Kwongfu.
Suku Tamil atau keturunan India kemungkinan datang bersama tentara Inggris. Daerah hunian orang Tamil di Kampung Keling merupakan pusat niaga. Sebagian besar dari mereka yang bermukim di Kota Padang sudah melupakan budayanya. Orang-orang Eropa dan Indo yang pernah menghuni Kota Padang menghilang selama tahun-tahun di antara kemerdekaan (1945) dan nasionalisasi perusahaan Belanda (1958).

AGAMA
Mayoritas penduduk Kota Padang memeluk agama Islam. Kebanyakan pemeluknya adalah orang Minangkabau. Agama lain yang dianut di kota ini adalah Kristen, Buddha, dan Khonghucu, yang kebanyakan dianut oleh penduduk bukan dari suku Minangkabau. Beragam tempat peribadatan juga dijumpai di kota ini. Selain didominasi oleh masjid, gereja dan klenteng juga terdapat di Kota Padang.
Masjid Raya Ganting merupakan masjid tertua di kota ini, yang dibangun sekitar tahun 1700. Sebelumnya masjid ini berada di kaki Gunung Padang sebelum dipindahkan ke lokasi sekarang. Beberapa tokoh nasional pernah salat di masjid ini di antaranya Soekarno, Hatta, Hamengkubuwana IX dan A.H. Nasution.[59] Bahkan Soekarno sempat memberikan pidato di masjid ini. Masjid ini juga pernah menjadi tempat embarkasi haji melalui pelabuhan Emmahaven (sekarang Teluk Bayur) waktu itu, sebelum dipindahkan ke Asrama Haji Tabing sekarang ini.
Gereja katholik dengan arsitektur Belanda telah berdiri sejak tahun 1933 di kota ini, walaupun French Jesuits telah mulai melayani umatnya sejak dari tahun 1834, seiring bertambahnya populasi orang Eropa waktu itu.
Dalam rangka mendorong kegairahan penghayatan kehidupan beragama terutama bagi para penganut agama Islam pada tahun 1983 untuk pertama kalinya di kota ini diselenggarakan Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ) tingkat nasional yang ke-13.

TEMPAT WISATA DI KOTA PADANG SUMATERA BARAT

10 Tempat Wisata di Padang yang Wajib Dikunjungi

Museum Adityawarman 
 

1. Air Terjun Tiga Tingkat

Air Terjun Tiga Tingkat
Air Terjun Tiga Tingkat
Berlokasi di Desa Cendikar, Air Terjun Tiga Tingkat adalah salah satu tempat wisata di Padang yang paling misterius. Mengapa saya katakan misterius? Jawabannya adalah karena tidak banyak orang yang tahu tentang tempat wisata alam ini, tidak banyak juga informasi beredar mengenai Air Terjun Tiga Tingkat. Mengapa disebut sebagai Air Terjun Tiga Tingkat? Karena air terjun ini memang bertingkat tiga, tidak semua orang akan dapat menikmati ketiga tingkat tersebut, karena perjalanan menuju tingkat ketiga lumayan berat, sampai harus merangkak karena licin dan terjal. Air Terjun Tiga Tingkat adalah tempat wisata yang sangat cocok bagi penggemar wisata alam dan petualangan.

2. Museum Adityawarman

Museum Adityawarman
Museum Adityawarman
Museum Adityawarman adalah museum yang paling terkenal di kota Padang. Museum yang dibangun pada tahun 1974 ini selain sudah menjadi ikon kota Padang, juga sudah menjadi salah satu tempat wisata di Padang yang wajib dikunjungi. Secara singkat, Museum Adityawarman adalah Taman Mini-nya kota Padang. Museum yang berada di atas tanah seluas 2,6 hektar ini merupakan tempat untuk menyimpan dan menjaga berbagai jenis benda bersejarah kota Padang, sehingga dapat melestarikan kebudayaan khas kota Padang sampai anak cucu.

3. Pantai Aie Manih (Pantai Air Manis)

Pantai Air Manis
Pantai Air Manis
Pantai Aie Manih atau akrab disebut sebagai Pantai Air Manis adalah salah satu tempat wisata di Padang yang paling terkenal. Pantai ini terkenal dengan legenda Malin Kundang dan dipercaya sebagai bukti bahwa legenda tersebut benar-benar nyata. Kisah Malin Kundang sendiri bercerita mengenai seorang anak yang tidak mengakui ibu kandungnya sendiri setelah ia menjadi seorang yang kaya raya. Kemudian Malin Kundang dikutuk menjadi batu, dan batu tersebut berada di Pantai Aie Manih (Pantai Air Manis). Selain terkenal dengan batu Malin Kundang, pantai ini juga menawarkan pemandangan yang indah dengan Gunung Padang sebagai latarnya, serta gelombang yang aman untuk wisata pantai.

4. Pantai Nirwana

Pantai Nirwana
Pantai Nirwana
Pantai Nirwana berlokasi kurang lebih sekitar 14 KM di sebelah selatan kota Padang. Pantai yang berlokasi tidak jauh dari Pelabuhan Teluk Bayur ini adalah salah satu tempat wisata di Padang yang paling disukai karena akses yang mudah dan jaraknya yang tidak jauh serta suasana fresh yang ditawarkan. Waktu terbaik untuk berkunjung ke Pantai Nirwana adalah pada sore hari, karena dengan begitu Anda akan dapat menikmati indahnya matahari terbenam, kemudian dilanjutkan dengan pemandangan lampu sorot dari Pelabuhan Teluk Bayur.

5. Pantai Pasir Jambak

Pantai Pasir Jambak
Pantai Pasir Jambak
Berlokasi 17 KM dari kota Padang, Pantai Pasir Jambak adalah salah satu tempat wisata di Padang yang paling disukai oleh para muda-mudi karena panorama yang ditawarkannya begitu indah dan romantis, terutama pada saat matahari terbenam. Hanya membutuhkan waktu kurang lebih 30 menit dengan kendaraan bermotor, Pantai Pasir Jambak adalah favorit rakyat kota Padang yang ingin mencari ketenangan pikiran.

6. Miniatur Makkah

Miniatur Makkah
Miniatur Makkah
Miniatur Makkah, sesuai dengan namanya, merupakan sebuah obyek wisata religi yang berlokasi di Lubuk Minturun. Obyek wisata yang dibangun pada tahun 2010 ini memang terbilang baru, namun saat ini sudah menjadi salah satu tempat wisata di Padang yang paling unik karena benar-benar mirip dengan aslinya. Miniatur Makkah ini juga sering digunakan untuk berlatih bagi mereka yang akan berangkat ke tanah suci. Selain itu, di sini Anda juga dapat melihat beberapa jenis satwa seperti unta, ikan, dan ular.

7. Jembatan Siti Nurbaya

Jembatan Siti Nurbaya
Jembatan Siti Nurbaya
Jembatan Siti Nurbaya adalah sebuah jembatan ikonik yang namanya diambil dari sebuah cerita fenomenal karya sastrawan Sumatera Barat bernama Marah Rusli. Jembatan Siti Nurbaya di kota Padang menawarkan pemandangan yang menyejukan mata, dihiasi dengan kapal-kapal kayu yang berlalu lalang pada siang hari, matahari tenggelam yang indah di sore hari, dan wisata kuliner yang lengkap pada malam hari, menyebabkan pengunjung Jembatan Siti Nurbaya seakan tiada habisnya setiap hari.

8. Lembah Anai

Lembah Anai
Lembah Anai
Lembah Anai adalah salah satu maskor pariwisata kota Padang, dan juga Sumatera Barat. Berlokasi di pinggir jalan trans Sumatera, Lembah Anai mempunyai 3 buah air terjun. Air terjun yang paling terkenal adalah air terjun yang mempunyai ketinggian 35 meter, terletak di pinggir jalan, dan sering disebut sebagai Air Terjun Lembah Anai. Jarak lokasi wisata ini dari kota Padang kurang lebih sekitar 60 KM, atau 2 jam perjalanan dengan kendaraan bermotor.

9. Sitinjau Lauik

Sitinjau Lauik
Sitinjau Lauik
Sitinjau Lauik atau sering disebut sebagai Padang Scenic Point, merupakan sebuah tempat dengan ketinggian kurang lebih 1,000 meter di atas permukaan laut. Sesuai dengan namanya, kegiatan wisata utama yang paling disukai di lokasi ini adalah menikmati pemandangan yang luas dan hijau, disertai dengan pemandangan Samudera Hindia di kejauhan. Selain itu, terdapat juga tempat permandian umum bagi mereka yang ingin beristirahat sejenak dari terjalnya jalanan di Sitinjau Lauik. Apabila Anda datang pada malam hari, maka Anda juga dapat menikmati pemandangan kota Padang yang berkelap-kelip.

10. Pantai Padang

Pantai Padang
Pantai Padang
Berlokasi di pusat kota Padang, Pantai Padang sangatlah mudah untuk dicapai sehingga selalu dipadati oleh warga kota Padang yang ingin menyegarkan pikiran dari segala rutinitas sehari-hari. Di pantai yang tidak memiliki pasir ini, terdapat area bermain anak-anak sehingga sangat cocok untuk keluarga yang mempunyai anak kecil

SEJARAH TIONGHOA PADANG, SUMBAR

Padang dan Sejarah Tionghoa

Cina di 1930-an. Pemindahan pedagang dari bagian utara ke selatan terjadi secara besar-besaran. Kaisar Cina saat itu, Tsi Huang Thi, memakarsai pemindahan. Dalam buku Lord of The Rims (Taipan dari Pesisir) karangan Sterling Seagrave, disebutkan empat alasan Kaisar yang berhasil menyatukan daratan Cina itu melakukan tindakan tersebut. Pertama, Tsi takut dengan ilmu suap bapak kandungnya, Perdana Menteri Lu Pei Wei, ikut menyebar pada pedagang yang merupakan pendukung bapaknya. Seperti dikatakan buku tersebut, Tsi adalah anak hubungan gelap antara Perdana Menteri Lu Pei Wei dengan selir Kaisar. Lu menaruh gundik yang sudah hamil menjadi selir Kaisar.

Ketika Tsi baru berumur 10 tahun ia diangkat jadi Kaisar. Lu menjadi Perdana Menteri selama 10 tahun. Dan satu-satunya perdana menteri dari gologan pedagang selama sejarah Cina.

Alasan kedua, Cina Utara terkenal dengan pertanian. Jadi tindakan itu merupakan pembersihan terhadap kaum pedagang. Kemudian, kaisar ingin menumbuhkembangkan populasi orang Cina di Selatan. Alasan terakhir berkaitan dengan pandangan kaum orthodok Confucianisme yang ternyata memandang rendah kaum pedagang, menempatkan kaum pedagang dibawah petani: dengan logika, petani paling tidak masih menghasilkan padi, sedangkan kaum pedagang tidak menghasilkan apa-apa. Kaisar memerintahkan pemindahan kaum pedagang (dan teman-temannya) secara besar-besaran ke daerah selatan yaitu (Fu Jian, Kwang-Tong).

Kaum inilah yang kemudian menyebar ke seluruh dunia yang diperkirakan mencapai 55 juta orang. Empat persen dari jumlah total seluruh penduduk negeri yang juga dikenal dengan sebutan Tiongkok.

Namun, penyebaran itu merupakan invansi ketiga masyarakat Cina menuju dunia. Gelombang pertama dilakukan oleh Zheng He (Cheng Ho) sekitar enam ratus
tahun yang lalu (National Geographic). Laksamana yang diketahui belakangan beragama Islam, membawa pasukannya menelusuri daerah-daerah selatan. Buku-buku pelajaran sejarah menyebut ia sempat singgah di Jawa dan membuat perjanjian dengan raja dan penduduk setempat.

Penyebaran kedua terjadi saat perang opium melanda Cina pada 1840. Dinasti Qing yang berkuasa mencoba menghentikan opium. Tapi, karena Inggris melihat potensi besar pada perdagangan ini, mereka malah mengirimkan kapal perang sebagai jawaban. Cina kalah dan ditandanganilah perjanjian membolehkan Inggris berdagang candu dan menyerahkan Hongkong dalam pangkuan Ratu Inggris.

Banyak masyarakat Cina yang melarikan diri dari keadaan sengkarut yang melanda negerinya. Mereka menyebar ke daerah asia bagian selatan termasuk asia tenggara. Inilah awal mula teori orang Cina memasuki kawasan Sumatra Barat.

Sudarma, tetua di sana membenarkan hal itu. "Saya memang kelahiran Padang. Sudah setengah abad di Padang. Kakek saya punya orang tua, yang disebut kongconya sudah di Padang. Ibu saya punya orang tua itu dari Tiongkok asli. Jadi umur 12 tahun dia ikut orang tuanya ke Indonesia. Sebenarnya tujuannya bukan ke Indonesia. Tujuannya itu mungkin ke Filipina. Tapi karena diserang badai, terdampar di Bagan Si Api Api. Nah, terus berjalan, akhirnya sampai di Padang, menetap di Padang," ceritanya.

Bisa jadi, orang tua Sudarma merupakan penduduk yang datang pada gelombang kedua. Kebenaran fakta itu bisa diperkuat dengan umur Kelenteng See Hin Kiong yang terletak di Kampung Cina. Dick Halim (80), tetua kaum Cina memperkirakan klenteng dibangun pada sebelum tahun 1860. Bisa jadi karena menurut catatan Erniawati, dosen Universitas Negeri Padang yang juga peneliti masyarakat Cina di Ranah Minang, klenteng pernah terbakar pada 1861. Seorang Mayor Cina yang diangkat oleh Belanda sampai mendatangkan pekerja-pekerja dari Cina untuk kembali membangun rumah suci itu. “Orang Islam kemana pergi juga mencari masjid, kan?” ujar Erniwati.
Teori lain mengatakan Cina Padang berasal dari Pariaman. Ernawati, yang menulis buku Asap Hio di Ranah Minang, Komunitas Tionghoa di Sumatera Barat, memperkirakan Orang Cina sudah berada di Pariaman pada abad 13. Saat Aceh masuk ke Pariaman.

Tidak mengherankan sebenarnya. Pariaman adalah surga bagi kaum pedagang di zaman itu. Pariaman menjadi pusat dagang di pesisir. Tak heran, pada 1630, Christine Dobbin, penulis buku Gejolak ekonomi dan Kebangkitan Islam dan Gerakan Paderi, Minangkabau 1784-1847, memperkirakan perkampungan Cina sudah ada di Pariaman.
Sayang, sebuah peristiwa mengenaskan menjadi pemicu hengkangnya orang Cina dari Pariaman. Pada masa pendudukan Jepang, seorang Cina membawa dua anak gadisnya ke kantor Jepang. Penglihatan itu ditanggap lain oleh para pemuda yang kebetulan melihatnya. Bisik-bisik pengkhianat merebak segera. Dua anak gadis itu langsung di bawa ke pantai dan dibelek dengan kangso (alat yang terbuat dari alumunium).
Menurut Erniwati, serangan itu dilakukan tanpa perencanaan. Makanya, alat yang disiapkan bukan senjata tajam biasanya untuk membunuh. “Lagi pula, itu hukuman bagi pengkhianat. Tidak orang Cina saja yang merasakan hukuman itu, pemuka masyarakat yang juga ikut menjadi mata-mata Jepang, mendapat hukuman yang sama.,” ujar sarjana S-2 jurusan Sejarah UNP ini.

Ketakutan merayapi masyarakat Cina. Berangsur-angsur mereka mulai meninggalkan Pariaman. Sampai 1965 beberapa orang Cina masih berdiam di sana. Tapi, memasuki 1967 agak sulit menemukan kaum bermata sipit di Pariaman. “Karena kejadian PKI atau PRRI,” terang Erniawati. Perlahan orang Cina berangur pindah ke Padang. Tepatnya, di kawasan pondok saat ini.

Namun, alasan ekonomi bisa juga dijadikan dasar. Pariaman tidak lagi dianggap ladang yang subur bagi perdagangan mendekati abad ke 19. Sehingga tidak saja pedagang Cina yang meninggalkan, tapi juga pedagang dari daerah lain.

Etika Dagang Landasan Hubungan Minang-CinaDiperkirakan, ada 12 ribu masyarakat Cina tinggal di Padang. Beratus-ratus marga atau suku yang mendiami. Tapi, hanya delapan suku yang punya rumah pertemuan. Kedelapannya adalah suku Gho, Lie-Kwee, Tan, Ong, Tjoa-Kwa, Lim Hwang dan Kho. Marga Kho merupakan marga terakhir yang membangun rumah pertemuan. “Marga yang lain sedikit jumlahnya. Jadi tidak membangun rumah pertemuan,” ujar Hanura Rusli dari Keluarga Lie-Kwee. Lie-Kwee saat ini mempunyai anggota 600 orang. Semuanya berumur di atas 17 tahun.

Sesuai namanya, rumah pertemuan memang digunakan untuk mengadakan acara-acara yang melibatkan satu keluarga. Misalnya pada Imlek (tahun baru Cina), Cap Go Meh (hari ke 15 dari perayaan imlek), Kio, Sipasan atau Pek Chun (hari raya yang memperingati puncak musim panas). Bahkan, pada ulang tahun ke 140, keluarga Lie-Kwee berencana mengundang seluruh suku Lie-Kwee yang berada di Indonesia. “Tapi, itu tiga tahun lagi,” ujar Lie Kian Guan sekretaris sekretaris himpunan keluarga Lie-Kwee.
Kekerabatan memang menjadi nomor satu bagi orang Cina. Dan seperti “adat” orang Asia Tengah (Jepang dan Korea), mereka sangat menjaga martabat keluarga. Apabila memalukan, bunuh diri atau dibuang dari keluarga merupakan hukuman yang pantas. “Di Medan, misalnya banyak yang tidak lagi diakui keluarga, sampai-sampai dibuatkan iklannya di koran, karena mencoreng aib keluarga besar, “ terang Hanura.

Mereka sangat menghormati leluhur. Ini merupakan sikap dasar bagi orang Cina. “Ini dipengaruhi oleh ajaran Confunsius dan Tao yang melekat pada setiap orang Cina,’ ujar Erniwati.

Satu lagi sikap orang Cina adalah sering melakukan pendekatan kepada penguasa. Di zaman Belanda mereka dianggap warga kelas dua. Sedangkan pribumi kelas tiga. Begitu juga di zaman jepang dan Soekarno. Mereka mendapatkan kesempatan yang tidak dimiliki banyak orang bahkan pribumi sekalipun.

Hanya di zaman Soeharto, keran kebebasan orang Cina berdagang sedikit dibatasi dalam pandangan mata masyarakat. Sebab, beberapa orangCina menjadi pengusaha sukses seperti Liem Sio Liong (???), pemilik Bank BCA.

Pada zaman Belanda dan Soekarno mereka ditempatkan dengan satu tujuan, ekonomi. Belanda memukimkan mereka bersama kawasan Belanda, seperti di kawasan Kampuang Cino agar bisa diawasi dalam mengawasi perdagangan mereka. Begitu juga Soekarno, mereka di ‘bekap” dalam satu tempat dan hanya dibolehkan berdagang.

Hal ini, menurut Hanura, ada untung ruginya. Pada satu sisi mereka tercukupi secara ekonomi, tapi di sisi lain mereka tidak bisa memberikan sumbangan dalam bidang lain. “Berapa orang PNS yang keturunan Cina?” tanyanya.

Kecemburuan pun menguasai pribumi melihat keberhasilan mereka dalam berdagang. Tak heran, apabila ada kerusuhan, orang Cina jadi sasaran seperti peristiwa 1998. “Padahal tidak semua orang Cina kaya. Lihatlah di pasar Tanah Kongsi,” kata Hanura.
Namun, di Padang benturan keras antar etnis Minang dan Cina tidak terjadi atau tidak sebesar kota lain. Menurut Erniwati, hubungan unik terjadi antara keduanya.
Sebagai sesama suku yang kuat berdagang dan punya budaya serta religi yang kuat, mestinya benturan sering terjadi. “Sepertinya, etika dagang membuat keduanya saling menghormati,” terang Erniwati.

Etika dagang yang membuat kedua suku berada dalam posisi teman. Sepertinya wilayah dagang dibagi dua saja. Dagang tingkat nasional dikuasai orang Minang serta untuk wilayah internasional, Cina lah yang menjadi penguasa.

99% tak Bisa Bahasa Cina
Lepas dari masa Soeharto, orang Cina menjadi lebih leluasa. Tekanan pemerintah jauh berkurang. Orang Cina lebih dibebaskan dalam menjalankan ibadah dan budaya. Tak heran Imlek atau Cap Go Meh terasa lebih meriah dari tahun ke tahun. “Yang paling menarik itu acara Sipasan. Pada Cap Go Meh kali ini pertunjukan Sipasan akan berlangsung paling meriah karena Sipasan panjang, “ tutur Xin Xui yang berdagang di depan HBT.

Meski begitu, alkulturasi diam-diam telah berlangsung. Jauh sebelum orang Cina menarik nafas lebih lega.

‘Buktinya, 99% orang Cina yang tinggal di sini tidak bisa lagi bahasa Cina,” kata Hanura. Jarak yang jauh dari tanah nenek moyang, serta memori yang terbatas membuat pelan-pelan budaya Cina mulai terlupakan. Banyak penduduk di Pecinan Padang terkaget-kaget ketika Erniwati menyebutkan tradisi-tradisi Cina yang sama sekali tidak pernah didengar. Bahasa yang dimunculkan pun terkesan lucu. Pasar Tanah Kongsi bisa jadi saksi alkulturasi bahasa. Jika berada di sana, bahasa Melayu-Tionghoa terdengar di sana-sini. Pigi mana lu (mau kemana), kecik telok gedang (air kecil telur besar, sejenis ungkapan), nya ndak mau o (ia tidak mau), misalnya.
Untuk menipiskan jarak, upacara-upacara, peringatan-peringatan keagamaan diusahakan untuk dilaksanakan sebagaimana mestinya. Walau untuk itu hanya menuliskan huruf-huruf Cina tanpa mengerti artinya. “Ndak tau ambo, do,” kata Hanura ketika ditanya maksud tulisan yang tertera di lampion.

Saat diwawancarai Hanura sedang mempersiapkan acara perarakan kio pada kamis (5/2) lalu. Sebuah acara berbau mistis seperti dabuih di Pesisir. Tujuannya pada leluhur. Kio diarak menuju rumah-rumah marga yang lain. “Untuk silaturahmi,” ujar Arif Rusdi Rusli, Jiko (wakil) dari keluarga Lie dan Kwee.

Selain itu, Sipasan menjadi kesenian unik di Kampung Cina. Bahkan menurut Hanura, kesenian tidak dijumpai di pecinan lain di Indonesia.

Sewaktu hari Ibu, masyarakat Cina mengadakan lomba unik. Lomba memakai baju marapulai minangkabau. Beragam pula variasinya. Ada pakaian pengantin Sawahlunto, Bukittinggi, Payakumbuh,” ujar Hanura yang kebetulan mendapat pakaian pengantin dari Padang.

Dari situ juga ia baru tahu bahwa secara budaya ada persamaan yang sangat kentara antara budaya Minang dengan Cina. “Terutama pakaian pengantin. Dan kata telong dalam sebuah pantun punya kemiripan dengan tenglong (lampion).”
Erniwati membenarkan kemiripan itu walau menyebut hal ini agak sensitif untuk masyarakat Minang.

Perubahan lain yang nampak adalah orang Cina sekarang tidak lagi tertutup untuk menerima anggota dari luar etnis. Bahkan, banyak pemain liong atau barongsai berkulit coklat. “Bahkan ada yang Islam,” terang Hanura.

Tak heran kalau ada acara barongsai, tidak semua pemainnya berkulit kuning. Mata belo juga muncul begitu kepala bermunculan dari balik barongsai.
Tidak bisa diraba kapan “musim semi” ini akan berakhir. Erniwati yakin bahwa masyarakat Cina di Padang tidak akan mendapat gangguan secara politis dan tekanan yang berlebihan dari etnis Minangkabau. (Yusrizal KW/Andika Destika Khagen/S.Metron M/Esha Tegar Putra/Gus RY)



SEJARAH SUKU MINANGKABAU

Asal-Usul Minangkabau dan Peranannya dalam Sriwijaya & Majapahit

Minangkabau atau yang biasa disingkat Minang adalah kelompok etnis Nusantara yang berbahasa dan menjunjung adat Minangkabau. Wilayah penganut kebudayaannya meliputi Sumatera Barat, separuh daratan Riau, bagian utara Bengkulu, bagian barat Jambi, pantai barat Sumatera Utara, barat daya Aceh, dan juga Negeri Sembilan di Malaysia. Dalam percakapan awam, orang Minang seringkali disamakan sebagai orang Padang, merujuk kepada nama ibu kota provinsi Sumatera Barat yaitu kota Padang. Namun, masyarakat ini biasanya akan menyebut kelompoknya dengan sebutan urang awak, yang bermaksud sama dengan orang Minang itu sendiri.




Asal-usul Minangkabau menurut TAMBO
Nama Minangkabau berasal dari dua kata, minang dan kabau. Nama itu dikaitkan dengan suatu legenda khas Minang yang dikenal di dalam tambo (babad, hikayat).

Dari tambo tersebut, konon pada suatu masa ada satu kerajaan asing yang datang dari laut akan melakukan penaklukan. Untuk mencegah pertempuran, masyarakat setempat mengusulkan untuk mengadu kerbau. Pasukan asing tersebut menyetujui dan menyediakan seekor kerbau yang besar dan agresif, sedangkan masyarakat setempat menyediakan seekor anak kerbau yang lapar. Dalam pertempuran, anak kerbau yang lapar itu menyangka kerbau besar tersebut adalah induknya. Maka anak kerbau itu langsung berlari mencari susu dan menanduk hingga mencabik-cabik perut kerbau besar tersebut.

Kemenangan itu menginspirasikan masyarakat setempat memakai nama Minangkabau, yang berasal dari ucapan "Manang kabau" (artinya menang kerbau).

Yang jelas bangunan rumah adat Minangkabau mencirikan tanduk kerbau dan hewan ini banyak dipelihara untuk korban upacara adat. Akan tetapi suku bangsa ini lebih suka menyebut daerah mereka Ranah Minang (Tanah Minang ) bukan Ranah Kabau ( Tanah Kerbau ).

Kisah tambo ini juga dijumpai dalam Hikayat Raja-raja Pasai dan juga menyebutkan bahwa kemenangan itu menjadikan negeri yang sebelumnya bernama Periaman (Pariaman) menggunakan nama tersebut. Selanjutnya penggunaan nama Minangkabau juga digunakan untuk menyebut sebuah nagari, yaitu Nagari Minangkabau, yang terletak di kecamatan Sungayang, kabupaten Tanah Datar, provinsi Sumatera Barat.

Dari tambo yang diterima secara turun temurun, menceritakan bahwa nenek moyang mereka berasal dari keturunan Iskandar Zulkarnain. Walau tambo tersebut tidak tersusun secara sistematis dan lebih kepada legenda dibanding fakta, serta cenderung kepada sebuah karya sastra yang sudah menjadi milik masyarakat banyak. Namun demikian, kisah tambo ini sedikit banyaknya dapat dibandingkan dengan Sulalatus Salatin yang juga menceritakan bagaimana masyarakat Minangkabau mengutus wakilnya untuk meminta Sang Sapurba (tokoh mitos di Bumi Melayu) salah seorang keturunan Iskandar Zulkarnain tersebut untuk menjadi raja mereka.



Asal-usul Minangkabau menurut Sejarah
Untuk menelusuri kapan gerangan nenek moyang orang Minangkabau itu datang ke Minangkabau, perlu dibicarakan mengenai peninggalan lama seperti megalit yang terdapat di Kabupaten Lima Puluh Kota dan tempat-tempat lain di Minangkabau yang telah berusia ribuan tahun. Di Kabupaten Lima Puluh Kota peninggalan megalit ini terdapat di Nagari Durian Tinggi, Guguk, Tiakar, Suliki Gunung Emas, Harau, Kapur IX, Pangkalan, Koto Baru, Mahat, Koto Gadan, Ranah, Sopan Gadang, Koto Tinggi, Ampang Gadang.


Seperti umumnya kebudayaan megalit lainnya, berawal dari zaman batu tua dan berkembang sampai ke zaman perunggu. Kebudayaan megalit merupakan cabang kebudayaan Dongsong. Megalit seperti yang terdapat disana juga tersebar ke arah timur, juga terdapat di Nagari Aur Duri di Riau. Semenanjung Melayu, Birma dan Yunan. Jalan kebudayaan yang ditempuh oleh kebudayaan Dongsong. Dengan perkataan lain dapat dikatakan bahwa kebudayaan megalit di Kabupaten Lima Puluh Kota sezaman dengan kebudayaan Dongsong dan didukung oleh suku bangsa yang sama pula.

Menhir-menhir di cagar budaya Bawah Parit yang merupakan lokasi menhir terbesar dari 7 situs menhir di Nagari Mahat. Lebih dari 348 Menhir berdiri tegak di sini Bentuknya pun macam-macam. Ada yang berbentuk pedang, tanduk maupun kepala manusia. Menurut penelitian para ahli, menhir-menhir ini telah ada sejak Periode Neolitikum yaitu sekira 2500-1500 tahun sebelum Masehi.

Menurut para ahli bahwa pendukung kebudayaan Dongsong adalah bangsa Austronesia yang dahulu bermukim di daerah Yunan, Cina Selatan. Mereka datang ke Nusantara dalam dua gelombang. Gelombang pertama pada Zaman Batu Baru (Neolitikum) yang diperkirakan pada tahun 2000 sebelum masehi. Gelombang kedua datang kira-kira pada tahun 500 SM, dan mereka inilah yang diperkirakan menjadi nenek moyang bangsa Indonesia sekarang.

Pakaian Minang dan suku Dong di Yangshuo dan Guilin
Bangsa Austronesia yang datang pada gelombang pertama ke nusantara ini, disebut oleh para ahli dengan bangsa Proto Melayu (Melayu Tua), yang sekarang berkembang menjadi suku bangsa Barak, Toraja, Dayak, Nias, Mentawai, Kubu dan lain-lain. Mereka yang datang pada gelombang kedua disebut Deutero Melayu (Melayu Muda) yang berkembang menjadi suku bangsa Minangkabau, Jawa, Makasar, Bugis dan lain-lain. Dari keterangan tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa nenek moyang orang Minangkabau adalah bangsa melayu muda dengan kebudayaan megalit yang mulai tersebar di Minangkabau kira-kira tahun 500 SM sampai abad pertama sebelum masehi yang dikatakan oleh Dr. Bernet Bronson.

Perpindahan ini berjalan bertahun-tahun bahkan berabad-abad. Dua kelompok ini sama-sama mempunyai ikatan matrilinear. Ada kelompok yang mencari aliran sungai. Pada saat perpindahan ini apa yang terjadi di belahan dunia yang sudah lama memasuki zaman logam antara lain dapat kita jelaskan sebagai berikut :

India berkembang agama budha yang dibawa Sidharta Gautama (563-483 SM). Gautama adalah putera Raja Sudhodana dari kerajaan Kavilawastu yang wilayahnya meliputi Nepal, Bhutan dan Sikkin, 1600 SM di India sudah pula berkembang agama Hindu (mahabratha). China di kala itu dikuasai Dinasti Chou tahun 1050-256 SM waktu itu hidup filosof Konfutse, Laotse dan Mengtse

Kedua daerah itu adalah tempat turunnya ras detro malayu termasuk Minangkabau, dapat dipastikan gelombang ke 2 yang datang 500-400 SM beragama Budha dan Hindu, dilihat secara kontekstual kemungkinan mereka yang turun dari Burma, Kamboja dan Thailand sebagai embrio suku besar melayu di Minangkabau (suku melayu di Minangkabau adalah Melayu, Bendang, Kampai, Mandahiling dan Panai) dan mereka yang datang dari India Selatan (pantai timur) adalah embrio suku Jambak, Pitopang, Salokutiannyia, Bulukasok dan Banuhampu atau sebaliknya, namun kedua kelompok ini disebut sebagai Melayu Continental.

Dalam rentang waktu 500-400 SM itu mereka telah membentuk kekuasaan budaya seperti raja gunung dan raja sungai. Agama Budha sudah dikembangkan pada saat itu. Mungkin saja pada periode ini mereka sudah sampai ke hulu Batang Kampar, hulu Batang Rokan, hulu Batanghari dan hulu sungai lainnya.

Situasi kehidupan masyarakat waktu itu hidup dengan berdagang, sawah dan mulai berkembang pertambangan emas dan hasil hutan lainnya,

Kredit: Aswilnazir.com
Ada pertanyaan dengan apa mereka menyelusuri dataran tinggi Minagkabau jawabannya adalah dengan kerbau, karena agama yang dianutnya perlu menyayangi binatang kerbau, gajah, lembu, sehingga dari kerbau ini mereka dapat mengembangkan permainan rakyat melalui adu kerbau. Dr Nooteboom memperkuat alasan tentang kegiatan berlayar yang dimiliki oleh ahli Yunani zaman purba Strabo dan Pilinius bukanlah Srilangka akan tetapi adalah Sumatera atas dasar itu Dr Nooteboom (pengikut zulkarnain) ketika ia berlabuh di India berarti sudah ada hubungan Minangkabau dengan India berkenaan waktunya adalah 336 SM.

Jika pendapat diatas ini kita hubungkan dengan apa yang diceritakan oleh Tambo mengenai asal-usul orang Minangkabau kemungkinan cerita Tambo itu ada juga kebenarannya.








Asal Usul Kata Melayu dan Minangkabau
Prof.Dr.Husain Naimar, guru besar antropologi Universitas Madras menerangkan bahwa kata melayu berasal dari bahasa Tamil. Malai berarti gunung, malaiur adalah suatu suku bangsa pegunungan dan sebutan malaiur fonetis menjadi melayu. Penduduk sebelah pesisir selatan pegunungan Dekkan adalah orang malabar,orang minangkabau menyebutnya malabari. Malayalam adalah bahasa yang dipergunakan oleh suku bangsa dravida yang mendiami pegunungan. Di minangkabau menurut penelitian Prof.Husein Naimar banyak terdapat kata-kata tamil dan sanskerta hal ini membuktikan adanya hubungan sejarah antara Minangkabau dan Malabar.


Di Malabar pun sistem masyarakatnya juga menurut garis keibuan dan pusako tinggi turun dari mamak ke kemanakan. Prof. Yean quisiner dari salah satu universitas di Perancis meneliti ke minangkabau, mendapatkan adanya hubungan antara Minangkabau dengan Burma, Muangthai, Kamboja dan Vietnam bukti adanya hubungan terlihat dari kata pagaruyung paga (suku matriakat seperti juga dijumpai pada suku khazi, malabar dan lainnya) "ru" artinya pusat "yung" (danyun) artinya kerapatan, jadi Pagaruyung dapat diartikan pusat kerapatan suku yang menganut sistem keibuan. Durian ditakuak rajo adalah perobahan fonetik dari Durum patakai raya.

Du : kata bilangan dua/seluruhnya
Rum : kerekel/pasir
Pataka : dataran pantai
Raya : luas/besar


Asal-usul Nama Minangkabau 
~ Prof Van de Tuuk menerangkan bahwa Minangkabau asalnya dari Pinang Khabu yang
artinya tanah asal

~ Prof Dr Husein Naimar menyatakan bahwa Minagkabau adalah perubahan fonetik dari
menonkhabu bahsa tamil yang artinya tanah pangkal

~ Drs Zuhir Usman bahwa di dalam hikayat raja-raja Pasai Minagkabau diartikan menang
adu kerbau

~ Hal ini mendapat bantahan dari Prof. Dr. Purbacaraka karena bersifat legenda.
Beliau mengatakan bahwa Minagkabau berasal dari Minanga tamwan artinya pertemuan dua
muara sungai.



Minang berasal dari Kerajaan Minanga asal dari Raja pertama Sriwijaya?
Minanga merupakan salah satu nama dari Kerajaan Melayu yang telah muncul pada tahun 645. Berita tentang keberadaan kerajaan ini didapat dari buku T'ang-Hui-Yao yang disusun oleh Wang p'u pada tahun 961 masa Dinasti Tang, dimana kerajaan ini mengirimkan utusan ke Cina pada tahun 645 untuk pertama kalinya. Kemudian didukung oleh Prasasti Kedukan Bukit yang bertarikh 683.

Menurut Prasasti Kedukan Bukit berangka tahun 605 saka (683 masehi), menceritakan seorang Raja bergelar Dapunta Hyang melakukan Siddhayatra (perjalanan suci) dengan naik perahu. Ia berangkat dari Minanga Tamwan dengan membawa satu armada dengan kekuatan 20.000 bala tentara menuju ke Matajap dan menaklukan beberapa daerah.

Prasasti Talang Tuwo
Beberapa prasasti lain yang ditemui juga menceritakan Siddhayatra dan penaklukkan wilayah sekitar oleh Sriwijaya, yaitu prasasti yang ditemukan di Kota Kapur di Pulau Bangka (686 masehi), Karang Brahi di Jambi Hulu (686 masehi) dan Palas Pasemah di selatan Lampung, semua menceritakan peristiwa yang sama. Dari keterangan prasasti-prasasti ini, dapat disimpulkan bahwa Dapunta Hyang mendirikan Kerajaan Sriwijaya setelah mengalahkan musuh-musuhnya di Jambi, Palembang, Selatan Lampung dan Pulau Bangka, dan bahkan melancarkan serangan ke Bhumi Jawa yang mungkin menyebabkan keruntuhan kerajaan Tarumanagara di Jawa Barat.

Slamet Muljana mengaitkan Dapunta Hyang di dalam Prasasti Kedukan Bukit sebagai "Sri Jayanasa", karena menurut Prasasti Talang Tuwo yang berangka tahun 684 masehi, Maharaja Sriwijaya ketika itu adalah Sri Jayanasa. Karena jarak tahun antara kedua prasati ini hanya setahun, maka kemungkinan besar "Dapunta Hyang" di dalam Prasasti Kedukan Bukit dan "Sri Jayanasa" dalam Prasasti Talang Tuwo adalah orang yang sama.

Prasasti kedukan Bukit
Prasasti Kedukan Bukit

1. Swasti, sri. Sakawarsatita 605 ekadasi su-
2. klapaksa wulan Waisakha Dapunta Hyang naik di
3. samwau mangalap siddhayatra. Di saptami suklapaksa
4. wulan Jyestha Dapunta Hyang marlapas dari Minanga
5. tamwan mamawa yang wala dua laksa dangan kosa
6. dua ratus cara di samwau, dangan jalan sariwu
7. telu ratus sapulu dua wanyaknya, datang di Mukha Upang
8. sukhacitta. Di pancami suklapaksa wulan Asada
9. laghu mudita datang marwuat wanua .....
10. Sriwijaya jayasiddhayatra subhiksa


Terjemahan dalam bahasa Indonesia modern:
1. Bahagia, sukses. Tahun Saka berlalu 605 hari kesebelas
2. paroterang bulan Waisaka Dapunta Hyang naik di
3. perahu melakukan perjalanan. Di hari ketujuh paroterang
4. bulan Jesta Dapunta Hyang berlepas dari Minanga
5. tambahan membawa balatentara dua laksa dengan perbekalan
6. dua ratus koli di perahu, dengan berjalan seribu
7. tiga ratus dua belas banyaknya, datang di Muka Upang
8. sukacita. Di hari kelima paroterang bulan Asada
9. lega gembira datang membuat wanua .....
10. Perjalanan jaya Sriwijaya berlangsung sempurna

Timbul setumpuk pertanyaan:
1. Benarkah Minanga sekarang disebut Minang?
2. Benarkah Minanga merupakan asal dari Dapunta Hyang (raja pertama Sriwijaya), ataukah hanya daerah taklukan Sriwijaya?
3. Apakah arti kalimat ‘marwuat wanua’? Benarkah kalimat ini menyatakan pembangunan sebuah kota seperti pendapat banyak ahli sejarah?
4. Benarkah peristiwa itu merupakan pembuatan ibukota atau perpindahan ibukota Sriwijaya?

Demikianlah prasasti Kedukan Bukit mengandung banyak persoalan yang tidak sederhana. “This text has caused much ink to flow” kata Prof. Dr. George Coedes dalam bukunya, The Indianized States of Southeast Asia, University of Malaya Press, Kuala Lumpur, 1968, h. 82.

Asal-usul Raja Jayanasa dan letak sebenarnya dari Minanga Tamwan masih diperdebatkan ahli sejarah. Karena kesamaan bunyinya, ada yang berpendapat Minanga Tamwan adalah sama dengan Minangkabau, yakni wilayah pegunungan di hulu sungai Batanghari. Sementara Soekmono berpendapat Minanga Tamwan bermakna pertemuan dua sungai (Tamwan berarti temuan), yakni sungai Kampar kanan dan sungai Kampar kiri di Riau, yakni wilayah sekitar Candi Muara Takus.



Hubungan Kerajaan Dharmasraya-Pagaruyung dan Singhasari-Majapahit
Dharmasraya adalah nama ibukota dari sebuah Kerajaan Melayu di Sumatera. Nama ini muncul seiring dengan melemahnya kerajaan Sriwijaya setelah serangan Rajendra Chola I (raja Chola dari Koromandel) pada tahun 1025.

Komplek Candi Muara Takus, salah satu Kawasan yang dianggap sebagai ibukota Sriwijaya
Kemunduran kerajaan Sriwijaya akibat serangan Rajendra Chola I, telah mengakhiri kekuasaan Wangsa Sailendra atas Pulau Sumatra dan Semenanjung Malaya. Beberapa waktu kemudian muncul sebuah dinasti baru yang mengambil alih peran Wangsa Sailendra, yaitu yang disebut dengan nama Wangsa Mauli.

Prasasti tertua yang pernah ditemukan atas nama raja Mauli adalah Prasasti Grahi tahun 1183 di selatan Thailand. Prasasti itu berisi perintah Maharaja Srimat Trailokyaraja Maulibhusana Warmadewa kepada bupati Grahi yang bernama Mahasenapati Galanai supaya membuat arca Buddha seberat 1 bhara 2 tula dengan nilai emas 10 tamlin. Yang mengerjakan tugas membuat arca tersebut bernama Mraten Sri Nano.

Prasasti kedua berselang lebih dari satu abad kemudian, yaitu Prasasti Padang Roco tahun 1286. Prasasti ini menyebut raja Swarnabhumi bernama Maharaja Srimat Tribhuwanaraja Mauli Warmadewa yang mendapat kiriman hadiah Arca Amoghapasa dari Raja Kertanagara, raja Singhasari di Pulau Jawa. Arca tersebut kemudian diletakkan di Dharmasraya.

Arca Amogaphasa
Dharmasraya dalam Pararaton merupakan ibukota dari negeri bhūmi mālayu. Dengan demikian, Tribhuwanaraja dapat pula disebut sebagai raja Malayu. Tribhuwanaraja sendiri kemungkinan besar adalah keturunan dari Trailokyaraja. Oleh karena itu, Trailokyaraja pun bisa juga dianggap sebagai raja Malayu, meskipun prasasti Grahi tidak menyebutnya dengan jelas.

Yang menarik di sini adalah daerah kekuasaan Trailokyaraja pada tahun 1183 telah mencapai Grahi, yang terletak di selatan Thailand (Chaiya sekarang). Itu artinya, setelah Sriwijaya mengalami kekalahan, Malayu bangkit kembali sebagai penguasa Selat Malaka. Namun, kapan kiranya kebangkitan tersebut dimulai tidak dapat dipastikan. Dari catatan Cina disebutkan bahwa pada tahun 1082 masih ada utusan dari Chen-pi (Jambi) sebagai bawahan San-fo-ts'i, dan disaat bersamaan muncul pula utusan dari Pa-lin-fong (Palembang) yang masih menjadi bawahan keluarga Rajendra.

Istilah Srimat yang ditemukan di depan nama Trailokyaraja dan Tribhuwanaraja berasal dari bahasa Tamil yang bermakna ”tuan pendeta”. Dengan demikian, kebangkitan kembali Kerajaan Malayu dipelopori oleh kaum pendeta. Namun, tidak diketahui dengan jelas apakah pemimpin kebangkitan tersebut adalah Srimat Trailokyaraja, ataukah raja sebelum dirinya. Karena sampai saat ini belum ditemukan prasasti Wangsa Mauli yang lebih tua daripada prasasti Grahi.

Prasasti ini ditemukan pada tahun 1911 
di dekat sumber sungai Batanghari, Padangroco
Dalam Kidung Panji Wijayakrama dan Pararaton menyebutkan pada tahun 1275, Kertanagara mengirimkan utusan dari Jawa ke Sumatera yang dikenal dengan nama Ekspedisi Pamalayu yang dipimpin oleh Mahisa Anabrang atau Kebo Anabrang. Kemudian ditahun 1286 Kertanagara kembali mengirimkan utusan untuk mengantarkan Arca Amoghapasa yang kemudian dipahatkan pada Prasasti Padang Roco di Dharmasraya ibukota bhumi malayu, sebagai hadiah dari Kerajaan Singhasari. Tim ini kembali ke Pulau Jawa pada tahun 1293 sekaligus membawa dua orang putri dari Kerajaan Melayu yang bernama Dara Petak dan Dara Jingga. Kemudian Dara Petak dinikahi oleh Raden Wijaya yang telah menjadi raja Majapahit penganti Singhasari, dan pernikahan ini melahirkan Jayanagara, raja kedua Majapahit. Sedangkan Dara Jingga dinikahi oleh sira alaki dewa (orang yang bergelar dewa) dan kemudian melahirkan Tuan Janaka atau Mantrolot Warmadewa yang identik dengan Adityawarman, dan kelak menjadi Tuan Surawasa (Suruaso) berdasarkan Prasasti Batusangkar di pedalaman Minangkabau.

Replika Istana Pagaruyung di Batusangkar. Di dalam istana terdapat barang-barang peninggalan kerajaan yang masih terpelihara dengan baik

Pada tahun 1339 Adityawarman dikirim sebagai uparaja atau raja bawahan Majapahit, sekaligus melakukan beberapa penaklukan yang dimulai dengan menguasai Palembang. Kidung Pamacangah dan Babad Arya Tabanan menyebut nama Arya Damar sebagai bupati Palembang yang berjasa membantu Gajah Mada menaklukkan Bali pada tahun 1343. Menurut Prof. C.C. Berg, tokoh ini dianggapnya identik dengan Adityawarman.

Adityawarman

Keturunan Minang?
Setelah membantu Majapahit dalam melakukan beberapa penaklukan, pada tahun 1347 masehi atau 1267 saka, Adityawarman memproklamirkan dirinya sebagai Maharajadiraja dengan gelar Srimat Sri Udayadityawarman Pratapaparakrama Rajendra Mauli Warmadewa dan menamakan kerajaannya dengan nama Malayapura. Kerajaan ini merupakan kelanjutan dari Kerajaan Melayu sebelumnya, dan memindahkan ibukotanya dari Dharmasraya ke daerah pedalaman (Pagaruyung atau Suruaso). Dengan melihat gelar yang disandang Adityawarman, terlihat dia menggabungan beberapa nama yang pernah dikenal sebelumnya, Mauli merujuk garis keturunannya kepada bangsa Mauli penguasa Dharmasraya, dan gelar Sri Udayadityavarman pernah disandang salah seorang raja Sriwijaya serta menambahkah Rajendra nama penakluk penguasa Sriwijaya, raja Chola dari Koromandel. Hal ini tentu sengaja dilakukan untuk mempersatukan seluruh keluarga penguasa di Swarnnabhumi.

Dari Sejarah diatas, terlihat sangat erat hubungan antara Singhasari-Majapahit di Jawa dengan Dharmasraya-Pagaruyung. Bahkan raja Majapahit Jayanegara pun ibunya adalah orang minang/melayu (Dara Petak). Jadi mungkin tidak terlalu mengada-ada (belum ada bukti sejarah) jika Gajah Mada adalah juga orang Minang, mengingat Mada dalam bahasa minang berarti bebal, pemalas atau masif (lamban). Hal ini cocok dengan binatang Gajah yang terkesan lamban.

Terracota yang dipercaya sebagai wajah dari Gajah Mada

Gajah Mada (wafat k. 1364) adalah seorang panglima perang dan tokoh yang sangat berpengaruh pada zaman kerajaan Majapahit. Menurut berbagai sumber mitologi, kitab, dan prasasti dari zaman Jawa Kuno, ia memulai kariernya tahun 1313, dan semakin menanjak setelah peristiwa pemberontakan Ra Kuti pada masa pemerintahan Sri Jayanagara, yang mengangkatnya sebagai Patih. Ia menjadi Mahapatih (Menteri Besar) pada masa Ratu Tribhuwanatunggadewi, dan kemudian sebagai Amangkubhumi (Perdana Menteri) yang mengantarkan Majapahit ke puncak kejayaannya. Gajah Mada terkenal dengan sumpahnya, yaitu Sumpah Palapa, yang tercatat di dalam Pararaton. Ia menyatakan tidak akan memakan palapa sebelum berhasil menyatukan Nusantara. Meskipun ia adalah salah satu tokoh sentral saat itu, sangat sedikit catatan-catatan sejarah yang ditemukan mengenai dirinya. Wajah sesungguhnya dari tokoh Gajah Mada, dan darimana dia berasal, sampai saat ini masih kontroversial. Pada masa sekarang, Indonesia telah menetapkan Gajah Mada sebagai salah satu Pahlawan Nasional dan merupakan simbol nasionalisme dan persatuan Nusantara.



Baca Juga:
Candi Muara Takus
 
                                                      DIBUAT OLEH: FATJRI HIDAYAT